Darimana gue tahu program ini? Awalnya sih gue
cari-cari di internet mengenai beasiswa untuk jurusan akuntansi. Dan ga sengaja
ketemu sama PPA BCA. Trus gue coba cari informasi sebanyak-banyaknya mengenai
program ini dan gue tertarik. Orang tua gue juga sangat mendukung gue. Gue udah
ngincer banget program ini sejak kelas 11.
Akhirnya setelah gue naik ke kelas 12, gue liat
pendaftaran PPA udah dibuka. Tapi sekali lagi, gue harus menunggu dengan sabar
sampai KTP gue keluar. Karena waktu itu gue daftar dengan nomor KTP, bukan
nomor kartu pelajar. Tapi sebenernya bisa kok pake kartu pelajar.
Setelah gue resmi mempunyai KTP, gue langsung
melakukan pendaftaran secara online. Di website yang tadi gue udah sebutin
diatas, ada formulir untuk pendaftarannya. Kita tinggal isi aja dan ikutin
petunjuknya satu per satu. Tapi pendaftaran gue terhenti di bagian proses
upload nilai raport. Dikarenakan sekolah gue memakai kurikulum 2013 (kurtilas),
bukan ktsp lagi. Jadi, nilai raportnya berbentuk huruf-huruf A, B atau C, bukan
angka. Range nilainya juga dari 1-4. Jadi ga ada nilai 80 atau 90 di raport
gue. Hal ini membuat gue bingung karena lembar excel yang disediakan diperuntukkan
untuk model raport ktsp.
Akhirnya gue putuskan untuk sedikit bersikap
sksd (sok kenal sok deket) dengan beberapa kakak kelas di ppa yang gue temuin
via facebook atau twitter. Gue ngajak mereka ngobrol dan tanya-tanya mengenai
ppa bca. Gue juga cerita mengenai kesulitan masalah nilai raport itu ke dia.
Dan, gue merasa beruntung dan sangat berterima kasih karena kakak kenalan lewat
twitter gue itu memberikan alamat email ke gue untuk nanyain masalah tadi.
Gue pun langsung kirim email dan menunggu
balasan. Singkat cerita, akhirnya kesulitan gue menemukan jalan keluar. Form
excel yang ada pada saat pendaftaran kini telah di update agar bisa diinput
oleh raport kurtilas. Tak perlu menunggu waktu lama, gue langsung daftar aja.
Dan proses pendaftaran awal pun selesai. Gue inget waktu itu tanggal 24
Agustus 2015 pas gue daftar online.
Dan sekarang adalah tiba saatnya untuk menunggu
sms pengundangan tes psikotes 1 dari pihak BCA. Hampir tiap hari gue ngebuka
web karir.bca.co.id untuk ngeliat apakah nama gue ada di bagian pengumuman
untuk dipanggil mengikuti tes psikotes. 1 minggu, 2 minggu, 3 minggu, 1 bulan
berlalu. Dan nama gue belum juga ada di website. Gue juga belum dapet sms dari
BCA. Sedangkan ada temen gue yang baru daftar dan langsung dipanggil. Saat itu
gue ngerasa pesimis dan miris. Gue ga percaya jika gue udah gagal di tahap
pertama. Apa salah gue? Hati gue bertanya-tanya.
Akhirnya setelah melalui 1 bulan penuh harapan
kosong, gue putuskan untuk mengirim email. Sehari kemudian email gue dibales
dan gue disuruh nunggu sampe gue dipanggil. Oke, gue nunggu lagi sambil terus
berdoa tiap hari agar gue diberi kesempatan untuk lolos ke tahap berikutnya. Ya
mungkin kesabaran gue sedang diuji saat itu.
2 minggu … Gue masih belum dapet sms dari BCA
dan gue masih bersabar.
3 minggu … Temen sekelas gue ada yang nyoba
juga ikut program ini, namanya agas.
Seminggu setelah temen gue itu daftar, gue
iseng-iseng ngebuka daftar nama yang dipanggil buat tes psikotes di Jakarta,
dan gue ngerasa nyesek karena nama agas ada disitu, sedangkan gue engga. Disitu
juga ada beberapa nama temen SMP gue, sekitar 8 orang lah. Bayangkan perasaan
gue waktu itu! Temen gue yang daftar cuma untuk nyoba-nyoba, dipanggil dalam
kurun waktu kurang dari seminggu. Sedangkan gue? Yang udah niat dari kelas 11
dan daftar dari 2 bulan yang lalu, tapi belum mendapat kabar apapun.
Akhirnya gue putuskan untuk mengirim email
kembali. Ya mungkin dia berpikiran gue orang yang bawel karena nanya mulu, tapi
gue ga peduli karena ini untuk masa depan gue. Dan gue ga mau digantungin.
Seandainya gue ga lolos, gue mau tau karena alasan apa.
Gue email begini ‘Maaf sebelumnya, saya sudah
mendaftar dari 2 bulan yang lalu, tapi mengapa saya belum dipanggil hingga
sekarang? Terimakasih’
Sore harinya gue lagi tidur-tiduran, gue
dikagetkan oleh suara dering HP gue. Gue liat layar HP gue dan disitu tertera
nomor tak dikenal. Gue angkat telepon itu tanpa menduga kalau itu dari BCA !!!
Yap, begitu gue mendengar kalau dia dari BCA, gue seneng banget. Rasanya
seperti pergi ke langit tujuh dan mendapat harta karun :D #lebay (dan gue ga bisa balik lagi ke bumi).
Si penelepon mengundang gue untuk ikut tes
psikotes di Wisma Slipi. Huffttt.. Akhirnya penantian gue selama 2 bulan ini
terjawab. Tak lupa juga, gue siarkan kabar bahagia ini ke seluruh penghuni
rumah gue, papa, mama, koko, cicak, semut, dan lainnya hehe..
Setelah itu, gue sibuk mempersiapkan diri untuk
tes psikotes itu. Hmm.. sebenernya gue rada bingung waktu itu mau belajar apa,
karena bagi gue tes psikotes itu hanya membutuhkan ketenangan, kesiapan mental
dan konsentrasi. Jadi, gue hanya menyiapkan kesehatan dan mental gue buat tes
ini.
Hari yang ditunggu pun tiba, yaitu hari Sabtu,
24 Oktober 2015 jam 08.00. Dengan memakai pakaian formal, gue pergi menuju
tempat tes yaitu Wisma Slipi bersama papa gue naik motor. Gue nyampe jam 7 pagi
dan saat itu masih sepi. Mungkin saking takut telatnya, jadi gue kepagian. Tak
apalah, masih banyak waktu untuk mempersiapkan diri. Tak lama kemudian, temen
gue Agas dateng.
Bagi gue, tes psikotes 1 itu seperti ajang
reuni. Karena gue ketemu temen SMP gue ga kurang dari 10 orang ckckck..
Jam 8 tepat, tes dimulai. Gue liat di daftar
nama absensi, ada 120 orang yang diundang PPA ini. Dengan bekal doa dan restu
orang tua, gue memulai psikotes ini. Tes psikotes 1 ini hampir sama seperti tes
psikotes biasanya, yaitu terdiri dari menghitung jumlah kubus bertumpuk,
wacana sederhana seperti soal b.indo, melanjutkan pola barisan angka, gambar
yang saling berhubungan, melanjutkan gambar, hitungan dasar, matematika
sederhana seperti soal perbandingan, aritmetika sosial, bunga, dan PLDV.
Menurut gue, yang dibutuhkan saat itu adalah ketenangan, konsentrasi, daya
tahan, dan kecepatan.
Setelah 4 jam berkonsentrasi penuh, akhirnya tes
tersebut selesai. Betapa lega hati gue. Di luar ruangan telah disediakan
konsumsi makanan. Yeay, pas banget dengan keadaan perut gue yang keroncongan.
Gue langsung melahap nasi kotak yang diberikan sambil menunggu pengumuman tes
yang akan ditempel jam 12.30.
Setelah mengobrol dan jalan sana-sini, gue
melirik waktu di hp gue yang menunjukkan pukul 12.20. Gue langsung melesat ke
arah tempat pengumuman akan ditempel. Sesampai disana, gue melihat sudah banyak
orang berkerumun di depan kertas, alhasil gue harus sabar menerobos sedikit
demi sedikit orang-orang di depan gue. Tiba juga giliran gue untuk melihat isi
kertas itu, dan betapa gembiranya gue saat melihat nama gue ada disitu. Dan
agas juga lolos. Kita lolos berdua. Yess !! Gue liat sampai bawah, cuma ada 20
orang yang lolos. Dan gue termasuk di antara mereka. That’s it. Tapi gue ga
boleh berbangga hati dulu, karena ini baru awal dari perjalanan panjang, dan
masih ada hal yang harus diperjuangkan. Gue ga boleh terlena dengan
keberhasilan kecil. Baru sepertiga langkah yang gue lewati.
Tes psikotes 2 dilaksanakan pada hari itu juga
dan di ruangan yang sama. Jika tes yang pertama lebih menekankan kepada IQ
kita, maka tes kali ini lebih ke kepribadian kita (EQ). Tes ini berupa melengkapi
pernyataan tentang kepribadian atau keseharian kita gitu, wartegg test, gambar
pohon, dan tes koran (pauli). Nih bagi yang belum tau tentang wartegg test,
gue kasih contohnya.
Jadi kita diminta untuk melanjutkan gambar
diatas sesuai dengan imajinasi kita. Tips dan trik menggambar pohon dan wartegg
test dapat diliihat di internet, banyak kok. Ga perlu gambar yang bagus, karena gue sendiri ga bisa ngegambar dan cuma asal aja. Tapi dari gambar itu bisa menampakkan kepribadian kita.
Bagi yang belum tau tentang tes koran, nih juga
gue kasih gambarnya.
Bagi gue, tes koran adalah tes yang paling
menguras otak dan tenaga. Karena selama 1 jam full gue harus ngitung dan nulis
secepat-cepatnya yang gue bisa. Dan itu bikin lelah banget. Tangan gue kayak udah
mau putus abis ngerjain gituan, mata gue juga agak pusing setelah melihat
deretan angka pada kertas sebesar koran itu. Tapi, itu adalah pengalaman bagi
gue. Dan gue telah melalui semua itu. Tes psikotes 2 akan diumumkan melalui
telepon. Jadilah mulai hari itu gue melakukan penantian lagi dan ngerasa
digantungin haha.. Mau tau cerita penantian gue selanjutnya? Move to part 2,
ok? Part 2 nya ada di sini .
NB : Kalau ada yang mau nanya tentang PPA BCA ke gue, silahkan saja komen di bawah.